Kerajinan Tangan Warga Sakai di Minas Ramah Lingkungan, Gubernur Riau Syamsuar: Sandal Pandan Bisa Dijual Untuk Hotel – BALIYA.ID

Dalam perjalanan ke Kota Dumai, Gubernur Riau (Gubri), Syamsuar, menyempatkan diri singgah ke Kelompok Kerajinan Tangan Sakai di Kampung Minas Barat, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, Riau, Rabu (15/1/2020).

Sumber : goriau.com

Syamsuar kagum melihat hasil kerajinan tangan berupa sandal yang terbuat dari daun pandan yang dikeringkan dari warga sakai di Minas. Kerajinan berupa sandal ini bisa dijual untuk kebutuhan sandal di hotel yang ada di Riau, khususnya di Kota Pekanbaru.

“Sandalnya unik dan sangat mencerminkan kearifan lokal, serta ramah lingkungan. Sandal daun pandan kering ini bisa dipasarkan di hotel-hotel yang ada di Riau,” kata Syamsuar kepada GoRiau.com, usai melihat hasil kerajinan tangan sandal daun pandan kering karya warga sakai.

Syamsuar juga menyarankan kepada Ketua Kelompok Kerajinan Tangan Sakai Minas Barat, Vince Wahyudi, agar sandal yang ramah lingkungan ini dijual juga melalui aplikasi digital. Sehingga, pasar dari sandal tersebut tidak hanya di Riau saja, tapi bisa nasional, bahkan international.

“Kami akan bantu memasarkan produk lokal ini. Sehingga, omset dari produk ini bisa meningkat dan bisa membuka lapangan pekerjaan baru, serta membantu meningkatkan ekonomi warga sekitar,” ungkap Syamsuar.

Vince Wahyudi menceritakan kepada GoRiau.com, dalam sehari bisa membuat 20 pasang sampai 30 pasang sandal daun pandan. Dalam waktu sebulan, bisa memproduksi 200 pasang sandal memiliki harga Rp10.000 sampai Rp15.000 per pasangnya.

“Saat ini kami menjualnya untuk warga sekitar dan melalui media sosial facebook. Omset dalam sebulan baru menghasilkan Rp300 ribu sampai Rp500 ribu,” ujar Vince.

Dijelaskan Vince, saat ini pembuatan sandal pandan masih manual, dengan bantuan ibu-ibu sekitar. Untuk sepasang sandal dapat dibuat dengan waktu 5 menit. Dengan bantuan tiga orang, sehari bisa membuat 50 pasang sandal bahkan lebih.

“Bahan baku sandal yang unik ini sangat mudah dicari, hanya daun pandan yang dikeringkan. Selain unik, daun pandan ini merupakan kebudayaan warga sakai, sebab selalu dipakai dalam bentuk tikar ataupun tas,” ungkap Vince.

a pun berharap, dengan kedatangan orang nomor satu di Riau ke tempatnya, ada perhatian dari Pemerintah Provinsi Riau yang dapat membantu mesin pres dan mesin jahit untuk Kelompok Kerajinan Tangan Sakai di Kampung Minas Barat, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak.

“Harapannya, kami masyarakat sakai bisa maju kedepannya dan berhasil. Pemprov Riau juga bisa membimbing kami, agar dapat lebih maju dalam mengembangkan ekonomi kreatif,” jelas Vince.

Syamsuar dalam perjalanan ke Kota Dumai didampingi Ketua TP PKK Riau Hj Misnarni Syamsuar, Kepala Dinas Perhubungan Riau sekaligus Plt Kepala Dinas PU-Perkimtan Riau, Taufiq OH. 

Sumber : goriau.com

Sandal Wedges

Berkat Dekranasda Sulsel, Lima Hotel di Makassar Gunakan Produk Sandal Enceng Gondok – BALIYA.ID

 Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sulsel mulai memetik hasil dari komitmen memajukan Industri Kecil Menengah (IKM) dengan menggandeng sejumlah hotel untuk menggunakan produk kerajinan lokal untuk kebutuhan tamu.

“Alhamdulillah sudah ada lima hotel bekerjasama dengan Dekranasda, memesan sandal hotel dari kerajinan enceng gondok, minimal 5.000 pasang per bulan selama satu tahun,” jelas Ketua Dekranasda Sulsel, Lies F Nurdin saat diskusi bersama puluhan pelaku IKM dari berbagai daerah di Baruga Lounge, Kantor Gubernur Sulsel, Jumat 3 Januari 2020.

makasar.terkini.id

Selain sandal enceng gondok, markisa dan kerajinan bunga akrilik juga mulai dipesan oleh sejumlah BUMN.

“Produk orderannya sampai luar provinsi, berjumlah ribuan, begitu banyak hasil kerajinan kami bangga sekali,” ujarnya.

Selain itu, Lies F Nurdin juga menggandeng Dinas Perdagangan dan Dinas Perindustrian Provinsi Sulawesi Selatan untuk mempersiapkan lokasi dan boks jualan bagi para pelaku IKM.

“Apapun harus kita lakukan untuk membantu teman-teman IKM, saat ini kami mulai menyediakan tiga titik di kota Makassar untuk digunakan sebagai lokasi memasarkan produk kerajinan, yakni di Benteng Rotterdam, kawasan di sekitar Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Sulawesi Selatan, dan dua titik di Anjungan Pantai Losari yang saat ini sedang dikoordinasikan bersama Pemkot Makassar,” terang Lies.

“Di Benteng Rotterdam ada 70 sampai 100 pengunjung setiap harinya, di situ bisa dihadirkan produk kerajinan, tanpa menarik biaya sewa tempat dan listrik,” sebutnya.

Selain menyediakan lokasi, Lies juga mengatakan akan mengusahakan bantuan box berjualan dengan memanfaatkan dana dari CSR perbankan.

Sebelumnya, Lies Nurdin telah memberikan bantuan 50 boks berjualan bagi pelaku IKM di Kabupaten Bone dan menyusul 25 boks untuk IKM di Kabupaten Takalar.

“Selanjutnya, bantuan ini akan kami fokuskan untuk Kota Makassar dan Kabupaten Maros,” tutupnya.

Sumber : makasar.terkini.id

Sandal Wedges

Kreasi Rumput Sintetis Sebagai Alas Sandal nan Unik – BALIYA.ID

Dunia bisnis saat ini memang cukup memikat bagi kebanyakan orang, salah satunya adalah Dewi Prabandari yang sejak lama berobsesi untuk membangun sebuah bisnis. “Selain itu, saya juga ingin menambah pemasukan di luar pekerjaan saya saat ini,” terang wanita yang bergeliat di salah satu perusahaan distributor farmasi di Jakarta ini.

Dari sekian banyak usaha, Dewi pun kepincut untuk membuka usaha sandal. Alasannya cukup simpel, karena jenis usaha alas kaki ini kembali booming sekarang, seiring dengan banyaknya pelaku usaha sandal karakter dan sandal kreatif. Namun agar laku di pasaran Dewi lebih memilih untuk menciptakan sandal yang berbeda dari pada mengikuti yang sudah ada, ini pun ia gunakan sebagai strategi dalam menembus persaingan yang semakin ketat.

Namun menciptakan sandal yang berbeda, diakuinya bukanlah perkara mudah, bahkan ia harus melakukan survei terlebih dahulu untuk mencari dan mengetahui sandal apa saja yang sudah ada dan belum ada di pasaran. Tak kurang dari satu bulan melakukan survei, ia pun menemukan Sandal Rumput buatan luar negeri yang diakuinya berbeda dan belum ada di Indonesia. “Model sandal tersebut sebetulnya sudah ada di luar negeri, sedangkan di dalam negeri pelakunya belum ada,” tutur wanita yang akrab disapa Dewi ini.

Sumber : dok siempreudalmeria.blogspot.com

Untuk memuluskan niatnya tersebut, Dewi mengeluarkan modal awal sebesar Rp 5 juta, yang digunakannya untuk membeli bahan baku pembuat sandal, seperti tali sandal tipe PVC, bahan spon tipe eva spon super, dan rumput sintetis, sedangkan untuk perlatan Dewi tidak membelinya, lantaran ia lebih memilih memaklonkan pembuatan sandalnya. Adapun urusan promosi, Dewi mengandalkan internet dan dari mulut ke mulut sebagai.

Keunikan Sandal Rumput. Melihat penampilan Sandal Rumput pasti banyak orang tertarik memakainya. Sandal dengan aksen rumput sintetis saat ini sudah dikenal di beberapa kawasan di Australia. Selain memiliki desain yang unik, Sandal Rumput ini cukup nyaman dipakai.

Menurut Dewi, Sandal Rumput ini sebenarnya adalah sandal japit santai yang diberi aksesori rumput sintetis di atasnya. Namun walau rumput sintetis Dewi berani menjamin rumput sintetis yang digunakannya menyerupai rumput asli, baik dari segi warna maupun bentuknya. “Memakai sandal ini serasa kamu di atas rumput asli,” promonya.

Meskipun tidak mengadopsi secara keseluruhan, Sandal Rumput buatan Dewi pun tidak kalah unik dan nyaman dipakai konsumen. Adapun ukurannya sangat bervariasi tersedia dalam 3 tipe, yakni tipe untuk wanita dengan ukuran 37-39, tipe laki-laki dengan ukuran 40-43, serta tipe untuk anak-anak dengan ukuran 32-36. Sementara harganya juga bervariasi, sandal pria dijual Rp 85 ribu per pasang, wanita Rp 60 ribu per pasang, dan anak-anak Rp 60 ribu per pasang.

Keungulan Sandal Rumput buatan Dewi terletak pada kualitas bahan yang digunakan terutama pada bahan rumput sintetisnya. Keistimewaan bahan rumput sintetis pada sandal buatan Dewi diimpor langsung dari negeri kincir angin, Belanda yang diakuinya memiliki tekstur lebih lembut dan menyerupai rumput asli.

Selain itu, keungulan lainnya terletak pada kualitas lem sandal yang memiliki ketahanan yang baik karena proses pengeleman pada setiap lapisan dilakukan dengan ketelitian dan pengawasan serta menggunakan jenis lem yang berkualitas. Agar kualitas lem tersebut terjaga Dewi menyarkan konsumen untuk memperhatikan proses pemelihraan sandalnya, terutama dalam hal mencuci sandal.

Adapun cara mencuci Sandal Rumput yang dianjurkan Dewi ialah dengan cara mencelupkan sandal ke dalam rendaman air sabun, kemudian diangkat, dilanjutkan dengan menyikatnya menggunakan sikat gigi secara pelan-pelan, jika dirasa sudah bersih bilas dengan air bersih, diusahakan pada air mengalir agar kotoran pada sandal terbawa air, sedangkan untuk mengeringkannya cukup dijemur, namun sebelum dijemur disaranakan untuk mengkibaskan sandal sebanyak 10 kali untuk mengurangi kadar air yang terdapat pada rumput.

Peralatan dan Bahan Baku. Memang dari segi harga, produk Sandal Rumput terbilang tidak murah bila disamakan dengan produk sandal jepit pada umumnya. Hal ini dikarenakan bahan baku yang digunakan dalam pembuatan Sandal Rumput merupakan bahan baku yang sangat berkualitas. “Di sini saya tidak hanya menjual keunikan produk saja, tetapi kualitas dan kenyamanan produk bila dikenakan konsumen,” terang Dewi.

Maka dari itu, Dewi pun tidak asal pilih dalam pemakaian bahan baku. Bahan spon, meskipun ia tidak menyebutkan secara langsung mereknya, tetapi menurut Dewi, ia menggunakan bahan eva spon berkualitas yang tebal dan bersifat anti selip. Harganya pun tidak murah, yakni bekisar Rp 100 ribu per lembar dengan ukuran 1,2 meter x 2,2 meter serta ketebalan 10 mm. Untuk tali sandal, ia menggunakan tali sandal bening yang dipesan dengan embos merek produknya yang dibeli dengan harga Rp 35 ribu per buah.

Bahan rumput sintetis, Dewi pun mempertahankan kualitas produk dengan memakai rumput sintetis yang diimpor langsung dari Belanda. “Keunikan kitakan dari pemakaian rumput sintetis, dan sudah pasti bahan rumput sintetisnya harus berkualitas baik,” jelasnya. Makanya tidak mengherankan harga dari rumput sintetis sekitar Rp 325 ribu per meter.

Setiap satu kali produksi, biasanya Dewi memperoleh hasil bekisar160 buah Sandal Rumput. Untuk sekali produksi, ia membutuhkan 8 kodi tali sandal,4 lembar eva spon, 5 meter rumput sintetis, dan 2 kaleng sedang lem.

Semua bahan baku yang dibutuhkannya, dibeli Dewi dari beberapa lokasi di Jakarta seperti Pasar Cipadu, Pasar Pagi Mangga Dua dan Pasar Pagi Asemka. Selain di ketiga tempat tersebut, bahan baku sandal rumput ini bisa didapatkan, salah satunya di Toko Mudhorobah Club yang beralamat di Perumahan Bukit Asri Jalan Pinus III Blok D14 No. 18-19 Ciomas Bogor.

Sedangkan peralatan yang dibutuhkan dalam usaha ini, cukup sederhana, seperti pemotong spon, yang berfungsi sebagai pemotong spon sekaligus pencetak pola untuk mempercepat proses pemotongan spon, mesin press sandal untuk mengencangkan lem, serta mesin gerinda untuk menghaluskan pinggiran sandal agar terlihat rapi.

MakloonDalam proses produksi, Dewi tidak melakukannya sendiri tetapi menggunakan jasa makloon dalam tahap pengerjaan Sandal Rumput ini. “Saya bekerja sama dengan makloon, karena untuk memproduksi sendiri masih terbatas dengan waktu dan modal,” ungkapnya. Tetapi, meski melemparkan proses produksi-nya ke makloon, untuk desain dan bahan baku produk, semuanya ditangani oleh Dewi.

Walaupun bukan ia sendiri yang melakukan tahap produksi, bukan berarti Dewi tidak mengetahui tahapan-tahapan pengerjaan Sanda Rumput ini. Demi menjaga kualitas produk, Dewi selalu memantau dan mengetahui proses pengerjaan dari makloon tersebut.

Langkah pertama, dilakukan pemolaan di atas spon sesuai ukuran, yakni antara ukuran 32-43. Setelah itu, barulah spons dipotong sesuai pola dengan menggunakan pisau pemotong spons. Setelah rangka sandal terbentuk, kemudian langsung dilubangi tiga bagian, yakni di sisi atas tengah dan dua sisi kanan kiri. Lubangtersebut berfungsi sebagai tempat memasukkan tali sandal.

Agar terlihat lebih rapi, bagian bawah sandal dilapisi lagi dengan bahan eva spons berwarna hitam dengan ukuran yang lebih tipis. ”Bahan tersebut sudah disediakan oleh pihak makloon,” jelas Dewi. Dan agar lebih menarik, bagian dasar sandal, diberi logo dan motif, dengan bantuan mesin emboss spon serta oven pemanas spon.

Jika pembuatan sandal jepit selesai, tahapan selanjutnya adalah pemasangan rumput sintetis yang sebelumnya telah dipotong seukuran sandal. Selanjutnya, rumput sintetis diletakkan di atas sandal yang sudah dibubuhkan lem perekat. Proses peletakkan ini harus dilakukan secara hati-hati dan teliti, gara menghasilkan produk yang rapi dan baik. Kemudian beralih ke tahap pengepresan, dengan menggunakan mesin pres spon, yang bertujuan untuk menekan hasil lem antara kedua bahan baku tersebut.

Setelah semua tahap selesai dilakukan, barulah proses finishing. Di sini, makloon yang bekerja sama dengan Dewi, menggunakan mesin grinda, untuk merapikan pinggiran pada sandal dari hasil pemotongan yang kurang maksimal, ataupun bekas lem yang terlihat pada outline sandal. Pada proses finishing ini, merupakan tahap penyeleksian kelayakan produk yang akan dipasarkan.

Untuk jasa makloon-nya, Dewi menggunakan pengrajin makloon yang berada di daerah Belitong, Kepulauan Riau. “Saya bekerja sama dengan pihak makloon dari Belitong, karena menurut saya mereka bisa menghasilkan produk sesuai keinginan saya,” jelasnya. Untuk biaya produksi, satu buah sandal diberi harga Rp 8.500.

Meskipun tidak menyebutkan secara pasti pihak makloon yang bekerja sama dengannya, tetapi Dewi merekomendasikan beberapa tempat makloon yang berkualitas. Salah satunya di V&D Shoes Co. Yang beralamat di Komp. Pasir Pogor Jalan Pasir Kencana II AA-10, Bandung, Jawa Barat.

Pemasaran. Sejak awal memulai usaha penjualan Sandal Rumput ini, Dewi memasarkannya via online, menurutnya cara promosi yang ia lakukan ini cukup efektif baginya yang masih terbilang baru di dunia bisnis dalam menggaet pasar di tengah keterbatasan modal. Selain itu, ia pun giat mengikuti berbagai pameran dan bazar produk kreatif untuk mendapatkan pasar yang lebih loyal.

Tak hanya itu, untuk lebih memperluas pasar ia memberikan kesempatan kepada konsumenya untuk menjadi Reseller. Syaratnya pun cukup mudah, yakni dengan minimal pembelian 10 pasang. Adapun keuntungan yang didapat Reseller berupa potongan harga sebesar 20%.

Dengan promosi dan sistem reseller yang diterapkannya tersebut, diakui Dewi, bisnis yang diajalaninya saat ini cukup sukses dan menjanjinkan. “Walau terkadang hanya terjual 50 persen dari total produksi, namun keuntungan bersih yang saya dapat cukup menjanjikan,” ucapnya.

Kunci sukses Dewi dalam menjalankan usaha karena tidak pernah pandang bulu dalam hal penjualan. Berapa pun jumlah pesanan akan dilayani dengan sebaik-baiknya. “Rezeki itu datangnya tiba-tiba, jadi jangan pernah ditolak. Saya pernah mendapatkan pesanan dalam jumlah banyak dari konsumen yang dulu hanya membeli satu pasang Sandal Rumput saya. Dan saya pun tetap menjaga baik komunikasi dengan mereka,” ceritanya. Saat ini pemasaran Sandal Rumput-nya sudah menjangkau ke berbagai daerah di Jabodetabek, bahkan sudah merambah ke Sumatera hingga Papua.

Sumber : berempat.com/bisnis/umkm/11104/kreasi-rumput-sintetis-sebagai-alas-sandal-nan-unik

Sandal Wanita

Adab Memakai Sandal – BALIYA.ID

Memakai sandal, adalah aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukan oleh orang pada umumnya. Meski terlihat biasa-biasa saja, dalam Islam ada adab-adab yang perlu dijaga dalam pemakaianya.

Dalam kitab “Bulūghul Marām” (2/204) karya Al-Hafidz Ibnu Hajar, dikemukakan hadits mengenai adab memakai sandal.

“Jika salah seorang dari kalian memakai sandal,” sabda beliau, “maka mulailah dengan (kaki) yang kanan. Ketika melepas, maka mulailah dengan (kaki) yang kiri. Dan hendaknya yang kanan menjadi permulaan pemakaian dan yang akhir dicabut.” (HR. Bukhari, Muslim)

Kalau diperhatikan dari beberapa hadits, memang Rasulullah secara garis besar suka memulai sesuatu dengan bagian kanan. Kecuali sebagian kecil yang didahului dengan yang kiri, seperti: saat masuk WC, keluar masjid, cebok dan lain-lain.

Selain itu, ada satu hadits lagi yang berkaitan dengan adab pemakaian sandal. Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah seorang dari kamu berjalan dengan sandal sebelah, tetapi hendaklah dipakai secara bersamaan, atau dicabut kedua-duanya.” (HR. Bukhari, Muslim)

Mengenai sebab dari larangan ini, dalam kitab “Fathul Baari” (X/309, 310), Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan beberapa pendapat: Pertama, pemakaian sandal disyariatkan untuk melindungi kedua kaki misalnya dari duri dan semacamnya. Ketika, yang dipakai hanya sebelah, maka kaki lain tidak aman.

Kedua, akan terjadi ketidakseimbangan di antara anggota tubuh. Ketiga, menunjukkan pada rusak dan lemahnya pandangan. Keempat, merupakan gaya berjalan setan. Kelima, keluar dari keadilan.

Dari dua hadits itu, ada beberapa adab yang penting diperhatikan:

Pertama, memakai sandal dimulai dengan kaki kanan.

Kedua, ketika mencopot, diawali dengan kaki kiri.

Ketiga, tidak memakai sandal sebelah. Jika mau memakainya, maka dipakai secara bersama-sama. Jika tidak, maka dicopot secara bersamaan.

Sumber : indonesiainside.id/risalah/2020/01/12/adab-memakai-sandal

Sandal wanita

Kejamnya Netizen, Sandal Mahal Bottega Veneta Diledek Mirip Mie Instan – BALIYA.ID

Mie instan adalah makanan favorit bagi kebanyakan kalangan orang, terutama untuk para kaum milennial dan Gen Z. Mie instan jadi makanan pilihan di berbagai macam suasana mulai dari sarapan hingga situasi darurat yaitu tak ada makanan lain atau dompet kering.

Baru-baru ini bahkan ada sejumlah video yang membuktikan bahwa mie instan juga bisa dijadikan salah satu bahan untuk memperbaiki benda-benda yang bertekstur tidak rata dan menjadikannya mulus kembali. Selain hal-hal tersebut, mie instan juga ternyata menjadi inspirasi alas kaki mahal.

Sumber : Bottega Veneta

undefined
Adalah akun Instagram @diet_prada yang membandingkan sandal terbaru Bottega Veneta dengan mie instan. Diet Prada seolah-olah meledek bahwa sandal Bottega Veneta itu mirip mie favorit banyak orang di seluruh dunia itu.

“@bottegaveneta Pre-fall 2020,” demikian akun @diet_prada menulis di keterangan foto yang diungganya pada Rabu (18/12/2019).

Sandal yang mirip mie instan itu merupakan koleksi pre-fall 2020 dari Bottega Veneta. Seluruh koleksi pre-fal 2020 Bottega Veneta ini merupakan karya dari direktur kreatif rumah mode asal Italia tersebut, Daniel Lee.

Daniel Lee menghadirkan koleksi yang didominasi warna hitam namun diberikan sentuhan playfull melalui penggunaan warna merah, biru dan kuning. Motif atau pola anyaman khas Bottega Veneta tetap hadir di koleksi pre-fall 2020. Alas kaki yang disebut Diet Prada mirip mie instan ini pun sebenarnya khas pola anyaman dari Bottega Veneta.

Sejak dibagikan pada Rabu (18/12/2019), postingan dari Diet Prada yang meledek Bottega Veneta ini telah disukai oleh lebih dari 55 ribu pengguna Instagram. Pada halaman komentar, sejumlah pengguna Instagram seolah tak percaya kalau Bottega Veneta merilis sandal yang bentuknya mirip mie instant.

“Is that for real ,” tulis salah satu pengguna Instagram.

“Is this a joke ,” tulis komentar lainnya.

Bagi para pecinta mie instan dan kamu kaum hypebeast, sandal mules yang memiliki hak di bagian belakangnya ini bisa menjadi rekomendasi sandal unik. Kira-kira apakah kamu tertarik untuk membeli dan mencobanya?

Sumber : wolipop.detik.com/fashion-news

Sandal Wanita

Haram Bagi Bikers untuk Pakai Sandal Dikala Hujan – BALIYA.ID

Hujan dan banjir yang melanda sejumlah daerah di bagian Indonesia memaksa beberapa pengendara sepeda motor yang ada di jalan raya berkompromi dengan perlengkapan berkendaranya. Salah satu yang lazim dilakukan adalah mengganti alas kaki dari sepatu digantikan dengan sandal.
 
Pendiri dan Instruktur di Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mewajibkan kepada seluruh para pengguna sepeda motor untuk tetap menggunakan sepatu daripada sandal ketika hujan. Bahkan diinginkannya pula untuk pengendara sepeda motor dilarang berkendara tanpa alas kaki untuk menghindari sepatu terkena banjir atau hujan.
 
“Sangat berbahaya, masa lebih sayang sepatu dibandingkan kaki,” tegas Jusri Pulubuhu Kamis (2/1/2020) kepada Medcom.id.

Sumber : medcom.id

Menurutnya pengendara sepeda motor ini sunnguh sangat rentan terlibat kecelakaan. Bahkan dia mengklaim aktivitas fisik paling berbahaya di era modern sekarang ini berkendara sepeda motor. “Kalau kita lihat data di Indonesia, 70 persen kecepatan adalah sepeda motor.”
 
Penggunaan sandal ketika berkendara menurutnya sangat berbahaya karena tidak memenuhi standar minimal perlengkapan berkendara. Untuk para pekerja yang menggunakan sepeda motor sebagai moda transportasinya, sebaiknya menggunakan standar minimal perlengkapan berkendara yakni sepatu.
 
“Sepatu yang digunakan juga harus menutupi mata kaki. Hal ini untuk melindungi ketika pengendara sepeda motor terjatuh dan akan langsung terkena jalanan. Jadi perlu dilindungi.”
 
“Meskipun hujan, tetap gunakan sepatu karena bisa saja sepeda motor slip dan pakai sandal saat jatuh maka akan langsung cedera. Karena sepeda motor tidak kenal stabil, pelan bisa rebah dan kencang bisa slip.”

Sumber : medcom.id/otomotif/tips-otomotif/

Sandal Wanita